Warga Resah, Counter HP di Pabuaran Cilendek Timur Diduga Jual Obat Golongan G Tanpa Izin

Warga Resah, Counter HP di Pabuaran Cilendek Timur Diduga Jual Obat Golongan G Tanpa Izin

BOGOR,- Belum lama di tutup, Counter Handphone di jalan Pabuaran Cilendek Timur Kec. Bogor Barat yang diduga menjual obat golongan G tanpa izin kembali buka. Kios yang berada di tengah pemukiman warga ini, setiap harinya tampak melayani para konsumen mereka yang rata-rata berusia remaja. Dari keterangan warga setempat yang enggan disebut nama nya mengatakan, Kios ini sempat tutup beberapa hari, Kamis (6/8/2020). 

" Saya lihat beberapa hari kemarin ini tutup kang, adalah sekitar 5 harian kalau tidak salah. Namun sejak kios itu tutup, penjaga kios nya tetap jualan sambil bawa tas kecil. Kalau ada langganan dia lewat pasti dipanggil sambil nawarin. Sekarang sudah buka lagi toko nya, “ ujar warga setempat.

Sebelum nya, media Indonesiasatu.id sudah menayangkan pemberitaan terkait dugaan ada nya penjual Tramadol dan Hexymer tanpa izin di kios Counter HP di Pabuaran Cilendek Timur. Kasat Narkoba Polresta Bogor Kota, Kompol Indra Sani yang menerima Link berita tersebut dari awak media langsung merespons melalui chat WhatShap “ Mksh Infonya, segera kami tindaklanjuti “.

Terbukti dengan tutupnya Counter HP tersebut. Meski kios tersebut tutup, namun penjualan dilakukan dengan cara nongkrong berdiri di sekitar area warung sambil memanggil para langganan mereka yang lewat didepan kios. Hal ini disampaikan warga yang tidak mau menyebut namanya
kepada awak media saat di wawancara. 

Mereka merasa khawatir dengan bebas nya penjual obat Tramadol dan Hexymer tanpa izin di wilayahnya, yang nantinya berdampak buruk kepada generasi penerus bangsa. Kepada awak media dirinya mengatakan, warga meminta pihak Kepolisian bertindak tegas kepada para penjual obat-
obatan ilegal tersebut.

“ Kita menghindari tindakan hakim sendiri para warga yang sudah resah dengan adanya kegiatan terselubung ini. Kami ingin kampung ini bebas yang namanya peredaran Narkotika," tegasnya.

Untuk diketahui, Tramadol dan Hexymer merupakan obat keras yang pemakaian nya harus menggunakan resep Dokter. Obat yang masuk dalam Psikotropika golongan IV dan tidak boleh di jual bebas. Untuk penjualan nya pun harus di apotek yang memiliki izin resmi.

Hal ini di atur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 51 tahun 2009 tentang pekerjaan Farmasian serta, Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 919/Menkes/Per/X/1993 Tahun 1993, tentang kriteria obat yang dapat serahkan tanpa resep (Perpenjualmenkes 919/1993).

Serta, Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas ' yang disusun oleh Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di Apotek dengan resep Dokter. Obat yang mengandung bahan kimia Trihexyphenidyl Hydrochloride itu merupakan obat depresi.

Bila dikonsumsi tidak sesuai dengan dosis, obat itu bisa menimbulkan efek seperti penggunaan Narkotika. Dan jika melebihi dosis, pemakai obat tersebut dapat menyebabkan 
gangguan kesehatan serius bahkan bisa berujung pada kematian.

Di dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 3 Tahun2015 juga dijelaskan tentang peredaran, penyimpanan, pemusnahan, dan pelaporan Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Farmasi 
(Permenkes 3/2015). Ancaman kepada pengedar dan penjual obat ini tidak main-main. Mereka bisa di jerat dengan UU 
No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan dan/atau UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman 15 Tahun penjara atau denda maksimal Rp 1,5 Milyar.

( LUKY )