Korban Modus Pembobolan M-Banking Minta Polisi Usut Tuntas Terduga Lainnya

Korban Modus Pembobolan M-Banking Minta Polisi Usut Tuntas Terduga Lainnya
Kelima Tersangka yang turut berkomplot dengan dua pelaku yang bekerja sebagai karyawati Nyonya NT.

TANGSEL,- Sungguh ironis dan tragis nasib yang dialami seorang pengusaha (suplayer daging) di Meruya Jakarta Barat. Sebut saja namanya nyonya NT, pemilik usaha suplayer/usaha keluarga dengan customer hotel, restoran, dan katering (Horeca). 

Pasalnya, dia tidak menyadari kalau uangnya yang ada dalam rekening, telah dicuri (dibobol). Pelaku melakukan pembobolan uang melalui M-Banking senilai Rp 4,8 M. Bahkan korban ternyata baru menyadari, kalau pelakunya adalah dua orang karyawati kepercayaannya. 

Awal mula kejahatan dua karyawatinya itu bisa terungkap lantaran pada saat nyonya NT selaku pemilik perusahaan berniat ingin membayarkan THR jelang lebaran tahun 2020. Sungguh betapa shock nya Nyonya NT, saat mendapat jawaban dari sang karyawati bahwa perusahaan sudah tidak lagi memiliki uang di Bank. Di situlah mulai terkuak, kalau ada hal yang perlu diungkap kemana raibnya uang perusahaan.

Nyonya NT kemudian diam-diam segera melapor ke pihak Kepolisian. Dirinya berharap aparat penegak hukum tersebut dapat mengusut tuntas semua yang diduga terlibat sebagai komplotan pembobol uang nya. 

Para pelaku melancarkan aksi nya dengan modus mentransfer uang perusahaan yang ada di Bank ke beberapa rekening, yang diduga milik komplotan dari pelaku ND dan HH. Untuk diketahui, dua karyawati ini sudah lama bekerja dan dipercaya untuk mengelola keuangan perusahaan oleh korban.

Ternyata setelah ditelusuri, akhirnya ditemukan bukti kalau telah terjadi pembobolan uang milik perusahaan hingga ludes. Adapun total uang yang dibobol setelah dikalkulasi sangat fantastis, sebesar Rp 4,8 M dan berakibat pada kebangkrutan usaha yang sudah dibangun dengan susah payah oleh korban.

Kejahatan yang dilakukan dua karyawatinya itu ternyata melibatkan juga beberapa orang lain, yakni, suami, adik, serta paman tersangka HH. Menurut keterangan korban, tersangka yang sudah diamankan dan diseret kemeja hijau berjumlah 5 orang. Mereka dijerat pasal penggelapan dengan pemberatan.

Dikonfirmasi usai persidangan ke dua yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Selasa (22/9), korban mengaku masih penasaran. Pasalnya, paman pelaku HH yang jelas-jelas di rekeningnya tercatat sebagai penerima aliran uang sebesar Rp 1 Milyar lebih dari hasil menjarah uang perusahaan itu, tidak duduk di persidangan sebagai tersangka, melainkan hanya sebagai saksi.

Hal itulah yang membuat nyonya NT gamang dan berencana akan melakukan protes kepada penegak hukum. 

Sebagaimana diketahui, kronologi terjadinya pembobolan uang milik perusahaan suplayer itu, sesungguhnya terjadi sudah cukup lama, yakni dengan modus  sistem perekaman di telepon seluler milik nyonya NT yang biasa digunakan  untuk mentransfer melalui M-Banking.

Setelah dilakukan penyentingan sistim perekaman oleh kedua pelaku, korban tanpa rasa curiga sering meminjamkan telepon seluler berisi M-Banking itu kepada pelaku. Dan akibatnya, pelaku dengan mudah dapat melihat dan mendengar jejak digital yang terekam di HP milik korban, sehingga pelaku dapat mentransfer ke rekening lain melalui HP korban dengan berpura pura meminjam Hp untuk keperluan tugas.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun wartawan, pembobolan yang dilakukan ND dan HH beserta keluarga komplotannya itu sudah berjalan sejak tahun 2016, dan baru terbongkar pertengahan 2020.  (Gusti)